![]()
Rubella & Rubeola seperti nama saudara kembar ya, tapi kedua saudara kembar ini bener-bener nggak cantik, laa dia ini penyakit, penyebabnya virus. Keduanya memang tampak sama bukan hanya karena namanya tapi juga karena penampakannya yang menyebabkan kulit kemerahan (skin rash), meradang & menyebar di seluruh tubuh, virus ini yang menyebabkan penyakit cacar(measles).

Biarpun keduanya tampak sama tapi sebenarnya berbeda, Rubella biasa disebut Campak Jerman(German measles), sedangkan Rubeola adalah campak pada umumnya.
RUBELLA, diperkenalkan oleh dua orang klinisi Jerman, De Bergen & Orlow, pertama menulis tentang Rubella pada tahun 1750, sehingga penyakit ini disebut “Cacar Jerman”, karena awalnya penyakit ini dikira varian dari measles(cacar) atau scarlet fever.
Pada tahun 1866, Veale, seorang ahli bedah Scottish pada English Royal Artillery, mengubah nama Cacar Jerman menjadi RUBELLA, berasal dari bahasa Latin “little red” (bintik merah kecil).
Rubella disebabkan oleh virus, diduga pertama kali ditemukan oleh Hess pada tahun 1914, dimana dia melakukan inokulasi darah anak penderita serangan akut rubella. Virus Rubella merupakan Famili dari Togavirus, termasuk Genus Rubvirus, dan manusia merupakan satu-satunya reservoar virus, ditransmisikan lewat droplet langsung, yang didapat dari kontak sekresi nasofaring, berkembang biak dalam kelenjar limf traktus respiratorius atas, dan kemudian menyebar secara hematogen (lewat aliran darah). Infeksi pada bayi dalam kandungan didapat dari ibu secara hematogen yang menembus plasenta.
Norman McAlister Gregg, ophthalmologist Australia, yang pertama mengamati hubungan antara kejadian bayi lahir dengan katarak kongenital, yang dilahirkan dari ibu penderita rubella. Kemudian infeksi rubella selama kehamilan awal diketahui menyebabkan defek kongenital parah yang disebut “Congenital Rubella Syndrome”(CRS). Kejadian CSR meliputi infeksi bayi intra uterine (dalam rahim) yang bisa menyebabkan kematian bayi dalam kandungan, kerusakan pendengaran, kelainan jantung, katarak kongenital dan kecacatan bayi lainnya.
Manifestasi psikhiatrik dari CRS berupa ganguan perkembangan saraf intra uterin, seperti mental retardasi, autism, gangguan perhatian dan gangguan hiperaktif.
PENYAKIT CAMPAK RUBEOLA, campak 9 hari atau measles, di beberapa daerah disebut juga sebagai tampek, dabaken atau morbili, adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan batuk, demam, konjungtivitis (peradangan selaput mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramixovirus.
Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada.
Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya biasanya dia akan kebal terhadap penyakit ini.

EPIDEMIOLOGI
Dari hasil pemeriksaan laboratorium Daerah Istimewa Jogjakarta, selama 2016, ditemukan 87 kasus campak dan 50 kasus rubella di Gunungkidul. ” Imunisasi dapat memutus mata rantai virus campak dan rubella; serta menurunkan angka CRS.
Angka CRS terbilang tinggi di negara berkembang, sekitar 110.000 CRS kasus tiap tahun. Karena itu, pemerintah gencar mengkampanyekan imunisasi MR. Untuk Gunung Kidul, sasaran imunisasi tahun 2017 mencapai 147.382 anak, dengan metode institusi pendidikan sebanyak 102.894 anak, dan Posyandu 44.488 anak. Pemberian imunisasi measles rubella (MR) untuk menghindarkan anak dari resiko cacat hingga kematian & ditargetkan pada tahun 2020 Indonesia bebas penyakit campak dan rubella.
Kejadian rubella & CRS di Amerika sangat rendah, dari angka 0.45/100,000 pada tahun 1990 menjadi 0.1/100,000 di tahun 1999, tapi Amerika memang sudah memperkenalkan vaksin rubella pada tahun 1969. Pernah terjadi wabah endemik rubella di Amerika pada tahun 1964 yang menyebabkan kematian 11,000 bayi dan kecacatan akibat CRS.
GEJALA
Gejala campak yang paling mudah terlihat adalah merah ruam, yang biasanya muncul antara 2-4 hari. Sebelum ruam muncul, orang yang terinfeksi telah merasakan gejala sakit tenggorokan, batuk, dan bersin. Ketika virus menyerang, virus juga dapat mempengaruhi kelenjar getah bening yang membuat kelenjar membengkak/klanjer. Demam tinggi, diare, dan sakit mata juga merupakan gejala umum.
Gejala campak biasanya akan berlangsung selama sekitar 7-10 hari. Kebanyakan anak tidak akan memiliki masalah selama periode ini, sementara pasien dewasa mungkin merasakan nyeri sendi ekstrim. Campak Jerman memiliki gejala yang lebih ringan daripada campak biasa. Bahkan, gejalanya mungkin sangat ringan hingga orang yang terinfeksi mungkin tidak menyadari kondisinya.
Masa inkubasi terjadi sekitar 10 hari sampai 2 minggu. Pertama-tama orang yang terserang akan mengalami kelelahan, yang diikuti dengan sakit kepala dan demam ringan. Ruam akan muncul setelah beberapa hari. Ruam dimulai dengan bintik-bintik kecil di wajah sebelum menyebar ke seluruh tubuh.
Kebanyakan orang yang terserang Campak Jerman mengalami nyeri sendi, terutama pada tangan dan lutut. Namun, jika ibu hamil yang terinfeksi, terdapat risiko tinggi pada bayi.
WAKTU ISOLASI
Disarankan selama sekurang-kurangnya 4 hari setelah ruam muncul.

KOMPLIKASI
Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak:
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
2. Kadang terjadi trombositopenia (penurunan trombosit), sehingga penderita mudah mengalami perdarahan atau memar.
3. Ensefalitis (infeksi otak) terjadi pada 1 dari 1.000-2.000 kasus
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan ruam kulit yang khas.
Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan darah, pemeriksaan darah tepi & Ig M anti campak
PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak sebaiknya menjalani istirahat. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
VAKSIN
Berdasarkan Data Ditjen Pencegahan & Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, pada tahun 2015 dari 8.185 kasus campak, sebanyak 54% di antaranya tidak mendapat vaksin campak.
“Vaksin campak saat ini yaitu vaksin MMR (measles mumps rubella). Yaitu, vaksin hidup yang sudah dilemahkan (baca di artikel lain dengan judul vaksinasi)
Membawa anak untuk melakukan vaksin juga ada aturannya. Anak harus dipastikan dalam keadaan sehat, dan orang tua harus ingat riwayat vaksin yang pernah diberikan.
Vaksin campak diberikan pada anak usia 9 bulan, dan diulang kembali pada saat memasuki usia 18 bulan. Booster diberikan pada usia 6 tahun.
Untuk vaksin MMR, bisa diberikan dua kali pada anak usia 15 bulan dan 5 tahun. Biasanya anak usia 15 bulan yang sudah divaksin MMR tidak perlu lagi memberikan vaksin serupa pada saat anak mencapai usia 18 bulan. Vaksin MMR sendiri biasanya bisa langsung menangani campak dan gondongan.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: bayi berumur lebih dari 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi, dan remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
Sumber:
J Pediatr Neurosci. 2016 Apr-Jun; 11(2): 137–139.
The Journal of Infectious Diseases, Volume 204, Issue suppl_1, 1 July 2011, Pages
S215–S225, https://doi.org/10.1093/infdis/jir108
MedicineNet.com, Kompas.com, TRIBUNNEWS.COM
Gambar: Geofanny Sarah Adventia
