Vaksinasi & Kenapa Jenner Disebut Bapak Vaksin?

SAPI

Loading

đź“‚ Kategori: Kisah yang Mengubah Dunia
🏷️ Tag: Edward Jenner, vaksinasi, vaksin, smallpox, cacar, cowpox, variolasi, Benjamin Jesty, Sarah Nelmes, James Phipps, sejarah vaksin, sejarah kedokteran
đź“… Ditulis pertama kali: 26 Agustus 2026
🔄 Direvisi terakhir: 27 Agustus 2026
📚 Referensi utama: WHO — History of Smallpox Vaccination, WHO — Smallpox Vaccines, CDC — History of Smallpox

Kalau Edward Jenner bukan orang pertama yang menemukan gagasan bahwa tubuh dapat “diajari” menghadapi penyakit, lalu mengapa namanya hampir selalu muncul sebagai Bapak Vaksin?

Pertanyaan ini menjadi lebih menarik setelah kita mengetahui bahwa jauh sebelum Jenner lahir, orang-orang di Asia, Afrika, dan di Kekaisaran Ottoman sudah mengenal variolasi—usaha melindungi seseorang dari cacar dengan sengaja memberikan sedikit bahan yang berasal dari penderita cacar. Jadi sejarah vaksin ternyata tidak dimulai di sebuah laboratorium Eropa pada akhir abad ke-18.

Ceritanya jauh lebih panjang.
Sebelum vaksin, manusia sudah mencoba “mengajari” tubuh

Cacar atau smallpox dahulu merupakan salah satu penyakit paling menakutkan di dunia. Penyakit yang disebabkan virus variola ini sangat mudah menular, dapat meninggalkan jaringan parut berat, kebutaan, bahkan kematian. Berabad-abad sebelum Jenner, masyarakat di beberapa wilayah sudah menyadari sesuatu yang sangat penting: orang yang pernah kena cacar dan sembuh biasanya tidak mengalami penyakit yang sama untuk kedua kalinya.

Dari pengamatan itulah berkembang berbagai bentuk variolasi.
Prinsipnya sederhana tetapi berani: lebih baik tubuh berkenalan dengan penyakit dalam keadaan yang diatur daripada bertemu secara liar lewat wabah. Tapi masalahnya, bahan yang digunakan dalam variolasi tetap berasal dari virus cacar manusia yang sebenarnya.

Orang yang menjalani variolasi memang umumnya mengalami penyakit yang lebih ringan dan risiko kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan terkena cacar secara alami, tetapi risikonya tetap ada. Orang tersebut juga dapat menularkan cacar kepada orang lain.
Jadi masyarakat sudah menyadari sebuah prinsip—tetapi caranya masih berbahaya.

Lalu datanglah seekor sapi.

Di pedesaan Inggris sudah lama beredar pengamatan bahwa perempuan pemerah susu yang pernah terkena cowpox, penyakit yang relatif ringan pada manusia, tampaknya jarang terkena smallpox.

Edward Jenner bukan satu-satunya orang yang mengetahui itu. Bahkan di 1774, lebih dari dua puluh tahun sebelum percobaan Jenner, seorang peternak Inggris bernama Benjamin Jesty sudah menggunakan bahan cowpox pada istri dan kedua anaknya dengan tujuan melindungi mereka dari smallpox. WHO sendiri mencatat peristiwa ini dalam sejarah vaksinasi.

Kalau begitu Jenner juga bukan yang pertama menggunakan cowpox?. Betul.
Dan justru di sinilah alasan mengapa kisahnya menarik.

Apa yang sebenarnya dilakukan Jenner?

Pada Mei 1796, Jenner mengambil bahan dari lesi cowpox di tangan seorang pemerah susu bernama Sarah Nelmes. Bahan tersebut kemudian diinokulasikan kepada seorang anak berusia delapan tahun, James Phipps. Phipps mengalami reaksi ringan dan kemudian pulih.

Beberapa minggu kemudian Jenner melakukan sesuatu yang pada masa sekarang pasti tidak akan lolos standar etik penelitian: ia memberikan bahan smallpox kepada Phipps untuk mengetahui apakah anak itu terlindungi, dan Phipps tidak mengalami smallpox.

Jenner kemudian mengulangi pengamatannya pada orang lain, mengumpulkan hasilnya, dan pada 1798 menerbitkan laporan pekerjaannya. Metode tersebut kemudian menyebar dengan cepat. Pada 1801, lebih dari 100.000 orang di Inggris dilaporkan telah menerima vaksinasi dan tulisan Jenner telah diterjemahkan ke beberapa bahasa.

Jadi sumbangan Jenner bukan sekadar: “Aku pernah mendengar cowpox melindungi dari cacar.”
Yang penting adalah ia menguji gagasan itu secara sistematis, mendokumentasikannya, menerbitkannya, dan mendorong penggunaannya sebagai metode pencegahan penyakit.
Di sinilah praktik lama mulai berubah menjadi sesuatu yang kelak kita kenal sebagai vaksinasi.

Kata vaccine berasal dari bahasa Latin vacca, yang berarti sapi.
Jenner menggunakan istilah variolae vaccinae untuk penyakit cowpox. Dari istilah itulah kemudian berkembang kata vaccine dan vaccination.
Lucu juga kalau dipikir-pikir. Sekarang kita mempunyai vaksin yang dibuat dengan teknologi yang sama sekali tidak berhubungan dengan sapi, tetapi semua orang masih membawa jejak seekor sapi dari Gloucestershire lebih dari dua abad lalu.

Jadi, apa sebenarnya vaksinasi?

Pada zaman Jenner, jawabannya terlihat sederhana: seseorang diberi bahan cowpox agar terlindungi dari smallpox.

Tetapi dua ratus tahun kemudian, teknologi vaksin sudah berkembang jauh. Tidak semua vaksin berisi virus yang dilemahkan. Ada yang menggunakan mikroorganisme yang sudah tidak aktif, hanya dari bagian tertentu virus/bakteri, bahan yang dibuat melalui teknologi rekombinan, sampai instruksi genetik sementara untuk membuat suatu antigen.

Definisi vaksinasi sekarang tidak lagi sekedar “memasukkan virus atau bakteri yang dilemahkan atau dimatikan”, tapi: “Vaksinasi adalah cara memperkenalkan sistem pertahanan tubuh kepada suatu ancaman, sehingga tubuh memiliki persiapan ketika bertemu dengan ancaman yang sebenarnya—tanpa harus terlebih dahulu mengalami penyakit berat akibat infeksi tersebut.”

Teknologi makin berkembang sehingga jenis vaksin makin beragam, tapi tujuannya tetap sama: memberi kesempatan kepada tubuh untuk belajar sebelum ujian yang sebenarnya datang.

Tapi banyak juga yang salah mengeti, orang kadang menganggap vaksin hanya berhasil kalau seseorang sama sekali tidak bisa terinfeksi. Padahal perlindungan akibat vaksin dapat mempunyai beberapa tingkat.

Pada sebagian penyakit vaksin dapat sangat efektif mencegah infeksi. Pada penyakit lain seseorang masih mungkin terinfeksi, tetapi risiko mengalami penyakit berat, komplikasi atau kematian dapat jauh berkurang. Jadi pertanyaan tentang vaksin bukan hanya soal: “Apakah virus masih bisa masuk?”
Tetapi juga: “Apa yang terjadi pada tubuh ketika virus itu masuk?”

Jadi, apakah Jenner benar-benar “Bapak Vaksin”?

Kalau istilah itu dimaksudkan bahwa Jenner adalah manusia pertama yang menemukan gagasan melindungi tubuh melalui paparan sebelumnya, jawabannya: tidak.

Manusia di berbagai wilayah dunia sudah mengembangkan variolasi jauh sebelum Jenner. Tetapi Jenner melakukan sesuatu yang menjadi titik penting dalam sejarah kedokteran. Ia menunjukkan bahwa perlindungan terhadap penyakit yang sangat mematikan dapat diperoleh menggunakan sumber yang lebih aman daripada virus smallpox itu sendiri, kemudian menguji, mencatat, menerbitkan, dan menyebarkan pendekatan tersebut.

Karena itulah WHO menyebut vaksin smallpox Jenner sebagai vaksin pertama yang berhasil dikembangkan. Dari sana vaksinasi berkembang dari satu percobaan terhadap smallpox menjadi salah satu cara pencegahan penyakit paling penting dalam sejarah kedokteran.

Menariknya, perjalanan itu tidak dimulai oleh satu orang. Ada masyarakat China, India, Afrika dan Ottoman yang selama berabad-abad mengumpulkan pengalaman. Ada para pemerah susu yang mengamati hubungan cowpox dengan smallpox. Ada Benjamin Jesty. Ada Sarah Nelmes. Ada James Phipps. Dan kemudian ada Edward Jenner, yang membantu mengubah pengamatan tersebut menjadi suatu metode yang dapat dipelajari, diuji, dan digunakan lebih luas.

Jadi mungkin cara yang lebih adil untuk melihat sejarahnya adalah: Jenner tidak memulai gagasan bahwa tubuh dapat diajari. Ia membantu mengubah gagasan tua itu menjadi vaksinasi modern. Dan setelah itu, manusia menemukan semakin banyak cara untuk “mengajari” sistem pertahanan tubuh – caranya?

Nah, itu baru cerita berikutnya: jenis-jenis vaksin dan bagaimana masing-masing bekerja – di artikel yang lain – SALAM

Sumber:
Eugène-Ernest Hillemacher, Edward Jenner vaccinating a boy (1884). Wellcome Collection — Public Domain.
https://commons.wikimedia.org/wiki/File%3AMelingue_Jenner_peint.jpg
https://www.who.int/news-room/spotlight/history-of-vaccination/a-brief-history-of-vaccination

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *