SEBELUM JENNER: KETIKA ASIA SUDAH MENCOBA MENGAJARI TUBUH MENGINGAT CACAR

INOKULASI

Loading

đź“‚ Kategori: Kisah yang Mengubah Dunia
🏷️ Tag: smallpox, cacar, variolation, vaksinasi, Edward Jenner, Lady Mary Wortley Montagu, China, India, Ottoman, Constantinople, immunological memory, sejarah vaksin, inokulasi
đź“… Ditulis pertama kali: 26 Agustus 2026
🔄 Direvisi terakhir: 27 Agustus 2026
📚 Referensi utama: WHO • Royal Society • Science History Institute • Wellcome Collection • Journal of the Royal Society of Medicine

Jauh sebelum manusia mengetahui bahwa antibodi dan memory cell ada, mereka sudah menemukan bahwa tubuh ternyata bisa diajari untuk mengingat penyakit.

Ya, kalau sejarah vaksin diceritakan dengan singkat, ceritanya biasanya dimulai begini: Edward Jenner. Inggris. Tahun 1796. Cowpox. Smallpox.

Itu tidak salah.

Tetapi kalau ceritanya dimulai di sana, kita kehilangan beberapa abad pertama dari salah satu eksperimen manusia paling berani dalam menghadapi penyakit. Jauh sebelum Edward Jenner lahir, orang-orang di Asia sudah memperhatikan sesuatu yang luar biasa: “orang yang berhasil selamat dari cacar biasanya tidak mengalami penyakit itu untuk kedua kalinya”.

Di masa itu mereka belum mengenal antibodi, nggak tahu sel B, sel T, memory cells, antigen, apalagi jurnal imunologi, tetapi mereka melihat sebuah pola biologis.
”Tubuh seolah-olah mengingat, dan manusia mencoba memanfaatkan ingatan itu.”

Sebuah gambar tua dari China

Salah satu jejak tersimpan dalam literatur sejarah kedokteran. Sebuah buku yang diterbitkan sekitar tahun 1913, The History of Inoculation and Vaccination for the Prevention and Treatment of Disease, memuat ilustrasi praktik inokulasi China.

Gambarnya sederhana: beberapa sosok manusia dan sebuah alat kecil yang digunakan untuk memasukkan material cacar melalui hidung.

Teknik ini terdengar mengejutkan saat ini, keropeng dari penderita smallpox dikeringkan dan diproses, kemudian material keropeng itu dimasukkan melalui hidung orang sehat. Tujuannya bukan membuat orang sakit, tapi mereka berharap paparan yang sengaja diberikan itu menghasilkan penyakit yang lebih ringan, kemudian meninggalkan perlindungan terhadap smallpox berikutnya.

Praktik tersebut kemudian kita kenal sebagai variolation

Menariknya, sumber-sumber sejarah menulis asal praktik ini jauh sebelum Masehi. Tapi penelitian sejarah modern lebih berhati-hati: bukti tertulis yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai praktik variolation di China berasal dari sekitar pertengahan abad ke-16. Jadi memang kita tidak bisa yakin dengan pasti siapa manusia pertama yang menemukan ide itu.

Tetapi satu hal jelas: ide melatih tubuh menghadapi smallpox sudah ada berabad-abad sebelum Jenner dan itu bukan vaksin dan risikonya nyata.

Variolation bukan vaksinasi seperti yang kita kenal sekarang. Material yang digunakan berasal dari Variola virus, penyebab smallpox itu sendiri. Artinya orang yang menjalani variolation benar-benar dapat mengalami smallpox. Sebagian mengalami penyakit berat, sebagian meninggal, dan orang yang baru divariolasi juga dapat menjadi sumber penularan bagi orang lain.

Tapi kalau dibandingkan menghadapi smallpox secara alami, manusia pada masa itu melihat sesuatu yang menjanjikan: paparan yang dilakukan dengan cara tertentu tampaknya dapat menghasilkan penyakit yang lebih ringan dan memberikan perlindungan setelahnya.
Memang sebuah eksperimen empiris yang berbahaya. Tetapi di balik eksperimen itu tersembunyi sebuah prinsip yang baru berabad-abad kemudian dapat dijelaskan oleh imunologi.

China bukan satu-satunya

Jejak praktik inokulasi juga ditemukan di India dan Afrika. Cara melakukannya tidak selalu sama. Metode China terutama terkenal karena memasukkan material cacar melalui hidung. Di tempat lain berkembang teknik memasukkan material cacar melalui luka atau goresan kecil pada kulit.

Praktik variolation di Kekaisaran Ottoman

Tercatat sejak awal abad ke-18, sudah digunakan di Kekaisaran Ottoman. Dari sinilah cerita mulai bergerak menuju Eropa. Seorang perempuan melihat sesuatu di Constantinople.

Namanya Lady Mary Wortley Montagu. Hubungannya dengan smallpox sangat pribadi, adiknya meninggal karena penyakit itu. Mary sendiri terkena smallpox, selamat, tetapi wajahnya meninggalkan bekas cacar.

Waktu tinggal di Constantinople sebagai istri duta besar Inggris, ia melihat masyarakat setempat melakukan inokulasi terhadap smallpox.


Pada 1718, putranya sendiri menjalani variolation dan ketika kembali ke Inggris, ia membawa pengetahuan tentang praktik yang dilihatnya di Ottoman. Karena itu, menyebut Ottoman sebagai “penemu vaksin” juga tidak tepat. Tapi perannya tidak kalah menarik: Ottoman menjadi salah satu jembatan penting yang membawa praktik variolation ke Eropa.

……Variolation rupanya sudah jadi budaya di Ottoman

OTTOMAN — Jejak para perempuan yang namanya tidak tercatat

Jauh sebelum praktik itu memperoleh nama besar di Eropa, variolation telah dikerjakan oleh perempuan-perempuan di Constantinople. Nama mereka sebagian besar hilang dari sejarah. Tetapi praktik mereka meninggalkan jejak: pada 1713 Emanuel Timonius menulis dari Constantinople tentang smallpox yang sengaja diberikan melalui incision or inoculation. Setahun kemudian laporannya sampai ke Royal Society.


Sebuah pengetahuan medis telah melakukan perjalanan lintas budaya.

Lalu datanglah Jenner
Hampir delapan puluh tahun kemudian, Edward Jenner melakukan sesuatu yang berbeda. Jenner memperhatikan cerita yang beredar bahwa perempuan pemerah susu yang pernah terkena cowpox tampaknya terlindungi dari smallpox.

Pada 1796 dia menguji gagasan itu.
Jenner menggunakan material lesi cowpox untuk menginokulasi James Phipps, seorang anak berusia delapan tahun. Dan Jenner melihat kalau anak tersebut terlindungi waktu dipaparkan smallpox lewat variolation—hehehe jelas eksperimen ini tidak akan lolos komite etik penelitian modern.

Perbedaannya sangat penting.
Praktik lama variolation menggunakan materi smallpox untuk melindungi terhadap smallpox. Jenner menggunakan penyakit berbeda, cowpox, untuk menghasilkan perlindungan terhadap smallpox.
Dari vacca, bahasa Latin untuk sapi, kemudian lahir istilah vaccination. Jenner bukan yang pertama menyadari bahwa tubuh dapat dibuat kebal terhadap smallpox. Tetapi pekerjaannya membantu mengubah pengetahuan empiris yang telah beredar selama berabad-abad menjadi jalan menuju vaksinasi modern.

Mereka menemukan “memory” sebelum mengenal memory cell
Orang-orang yang melakukan variolation ratusan tahun lalu tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuh. Mereka tidak tahu bahwa antigen dapat dikenali oleh sistem imun. Mereka tidak mengenal memory B cells atau memory T cells. Mereka bahkan belum tahu bahwa virus ada.

Yang mereka miliki hanyalah pengamatan: pernah terkena → sembuh → biasanya tidak terkena lagi.
Dari pengamatan itu manusia berani membuat sebuah pertanyaan: Kalau begitu, bisakah tubuh sengaja diajari sebelum penyakit yang sebenarnya datang?
Hari ini kita mempunyai nama untuk jawabannya

“Immunological memory”.

Sejarah vaksinasi sebenarnya tidak hanya bercerita tentang Jenner, seekor sapi, dan seorang anak bernama James Phipps. Ia juga merupakan perjalanan panjang sebuah gagasan—dari pengamatan manusia di Asia dan Afrika, melewati Kekaisaran Ottoman, memasuki Eropa, lalu berkembang bersama mikrobiologi dan imunologi modern.

Sejarah ilmu kedokteran memang menarik: “manusia kadang menemukan bahwa sesuatu bekerja, jauh sebelum ilmu pengetahuan mampu menjelaskan mengapa ia bekerja.”

Sumber Gambar:

  • “Figures showing vaccination pustules, from a Chinese work on vaccination”, The History of Inoculation & Vaccination for the Prevention & Treatment of Disease (1913). Lisensi CC BY 4.0.
  • “American Medical Association, The History of Inoculation & Vaccination for the Prevention & Treatment of Disease, ca. 1913 — Courtesy of Science History Institute. Public Domain.”
  • https://makingscience.royalsociety.org/items/clp_22ii_1/paper-history-of-the-procuring-of-the-small-pox-by-incision-of-inoculation-as-it-has-for-some-time-bin-practiced-in-constantinople-istanbul-turkey-by-emanuel-timonius?page=1
  • Jean Baptiste Vanmour, Lady Mary Wortley Montagu with her son Edward and attendants, c. 1717 — Public Domain, via Wikimedia Commons.
  • https://www.who.int/news-room/spotlight/history-of-vaccination/history-of-smallpox-vaccination

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *