AKU YANG IRIS, BUKA PERUT, AKU JUGA YANG KABUR 🥺😂

CANTEEEK

Loading

📌 Tentang Artikel Ini: Sambil deg-degan aku buka perut pasien, ya gimana nggak deg-degan, aku bahkan belum pernah membuka perut sebelumnya & setelah perut terbuka…..usus mulai tampak dan di satu loop usus ada gumpalan bundar…😔waktu aku buka bagian itu…..seketika aku teriak dan lari, kaboooor…..mundur terduduk di sudut kamar operasi🥺
📂 Kategori: Cerita dari Meja Operasi
📅 Ditulis pertama kali: 31 Juli 2026
🔄 Direvisi terakhir: 7 September 2026
📚 Referensi utama: pengalaman pribadi
🖼️ Foto: Koleksi Pribadi, Gambar: Geofanny Sarah Adventia

Ini salah 1 operasi yang nggak akan aku lupakan – aku masih dokter umum waktu itu di Jayapura.

Karena saat itu dokter bedah cuma satu orang di Irian Jaya, itupun harus berkeliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain.
Jadi kalau ada pasien gawat…..
ya kami kerjakan sambil kami belajar.

Once upon a time😂🤭
Ada pasien datang dengan perut kembung hebat, muntah- muntah, tidak bisa buang angin, tidak bisa BAB dan pasien sangat kurus.
Semua tanda menunjukkan satu hal…..
ususnya tersumbat…..buntu…. dan pasien terus muntah-muntah di UGD.

Waktu itu sempat di rontgen sih, tapi gak berguna sama sekali – karena aku gak yakin aku sedang melihat apa – yaa dengan modal pengetahuanku waktu itu – yang aku ingat cuma melihat awan-awan beriring saja dan bukan gambaran usus yang tersumbat😋😂

Ehh btw, sebenernya untuk ukuran tahun 90an – di RS.Dok II Jayapura itu peralatan bedah sudah lengkap – karena jasa Eks Direktur: dr. TH. Oey SpB, yang melengkapi instrumen bedah, bahkan sudah ada C. Arm(alat rontgen khusus), RS tempatku bekerja yang sekarang juga belum ada, tapi memang kebutuhan tiap rumah sakit berbeda.
Dr. TH. Oey SpB ini lulusan Jerman, istrinya perawat Jerman yang diboyong ke Jayapura dan beliau ini yang rajin banget mendesak aku untuk lanjut sekolah bedah – cocok katanya pake banget – padahal kala itu aku nggak kepikiran babar pisan sekolah lagi, la wong bisa lulus dokter umum saja sudah amazing buatku.

Balik ke cerita ya….
Akhirnya kami memutuskan melakukan laparotomi(buka perut).

Sambil deg-degan aku buka perut pasien, ya gimana gak deg-degan, aku bahkan belum pernah membuka perut pasien sebelumnya – tapi aku pernah jadi asisten dan beberapa kali liat laparotomi….

Setelah perut terbuka…
…..usus mulai tampak dan di satu loop usus ada gumpalan bundar…😔

Dan aku membuat sayatan di bagian dinding usus itu…..terbuka dan seketika aku teriak dan lari, kaboooor…..mundur terduduk di sudut kamar operasi…..aku nggak bisa melanjutkan operasi….tapi aku juga bingung…. terus siapa yang akan melanjutkan… kan???

Benjolan itu rupanya kumpulan cacing yang membentuk bola padat…
… yang menyumbat usus, sebesar bola kasti. Kelihatan seperti benda mati memang, seperti tumor…. tapi masalahnya – teman-temannya cacing yang ada di sekitarnya itu menari-nari melambai-lambai – aku benar-benar nggak bisa lanjut🥺

Akhirnya…
Temen-temen perawat yang sabar mengambil dan membuang cacing-cacing itu satu per satu sampai benar-benar bersih dan nggak lupa cekikikan ngeledek aku…

Sementara aku…
duduk di sudut kamar operasi sambil memulihkan harga diri, lemes, merinding😂

Setelah minum segelas cokelat hangat manis, aku bisa berdiri lagi – huhhh😂
Menjahit usus.
Buat anastomosis.
Menutup perut pasien.
Dan syukurlah…
pasien sembuh dengan baik.

Sampai detik ini aku nggak bisa mengatasi phobia ini, jadi semua binatang melata dan serangga itu musuhku. Bahkan ada lintah masuk rumah atau kecoak, aku telpon tetangga untuk buang – haduuuh merinding DJ😂🤣😭😭😭 – nggak cocok ya dengan penampakanku🤫😋😂

Iya, penyebab sumbatan itu bukan tumor.
Bukan perlengketan.
Bukan usus terpuntir.
Tapiiii……
segumpal cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang menyumbat lumen usus sampai buntu.

Memang di meja operasi ….sering kita menemukan hal-hal yang nggak diduga…
…. waktu membuka perut, apalagi kalau kasusnya kecelakaan, tapi aku nggak berharap ketemu cacing lagi sampai kapanpun😂

Dan….
Temen-temen tahu nggak sih sampai detik ini Papua masih jadi provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi – ini yang menyebabkan cacing gelang itu – dan aku kabur dari cacing gelang itu tahun 95an……..tapi….

….sampai hari ini memang Papua masih menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Jadi selama kondisi dasar kayak sanitasi, air bersih, dan gizi belum membaik, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah seperti infeksi cacing akan tetap menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat…..padahal Papua kaya🥺🤢


Catatan setelah puluhan tahun menjadi dokter bedah.
Waktu aku bikin tulisan ini, aku mikir kalau saja kasus yang sama aku temui sekarang, kemungkinan aku justru akan meminta berbagai pemeriksaan penunjang: USG, foto polos abdomen, CT scan bila diperlukan, bahkan pemeriksaan lain untuk menyingkirkan penyebab obstruksi usus lain, misalnya kanker.

Padahal waktu itu aku cuma mengandalkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Ironinya, justru keterbatasan membuat aku lebih pakai otak wakakakak. Pemeriksaan penunjang memang sangat membantu, tetapi tetap berfungsi untuk mengonfirmasi dugaan klinis, bukan menggantikan penalaran seorang dokter.

“Hidup memang penuh kejutan dan keajaiban”

Finally:
Teknologi adalah sahabat terbaik dokter, tetapi hanya jika ia datang setelah dokter belajar mendengar keluhan pasien dan memeriksa dengan tangannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *