Dutch Hunger Winter, Enam Puluh Tahun Kemudian, Jejak Itu Masih Ada

DUTCH HUNGER

Loading

πŸ“Œ Tentang Artikel Ini: Dutch Hunger Winter menunjukkan bahwa kelaparan selama kehamilan dapat meninggalkan jejak biologis yang masih terdeteksi puluhan tahun kemudian. Salah satunya ditemukan pada pola metilasi DNA di sekitar gen IGF2. Penelitian berikutnya juga menemukan hubungan antara paparan kelaparan sejak dalam kandungan dengan perubahan pada tubuh dan otak saat dewasa.
πŸ“ Kategori: Genetika
πŸ“… Ditulis pertama kali: 6 Oktober 2026
πŸ“š Referensi utama: Persistent epigenetic differences associated with prenatal exposure to famine in humans
πŸ–ΌοΈ Gambar: Ilustrasi AI, GIF: Koleksi Pribadi

Musim dingin itu akhirnya berakhir.

Makanan kembali tersedia. Bayi-bayi yang dahulu berada di dalam kandungan tumbuh menjadi anak-anak, kemudian menjadi orang dewasa.

Tetapi puluhan tahun kemudian, para ilmuwan menemukan sesuatu yang menarik.
Kelaparan itu tidak mengubah gen mereka menjadi gen baru. Huruf-huruf DNA mereka tetap sama. Tapi cara tubuh mengatur sebagian gen ternyata berbeda, dan tubuh masih menyimpan jejak musim dingin yang mereka alami ketika mereka bahkan belum lahir.

Gen yang Sama, Cara Mengaturnya Bisa Berbeda

DNA itu bisa dibayangkan seperti sebuah buku besar berisi ribuan instruksi.
Tetapi tidak berarti instruksi-instruksi itu selalu digunakan dengan kekuatan yang sama. Sel mempunyai banyak cara untuk mengatur kapan sebuah gen bekerja, di jaringan mana ia bekerja, dan seberapa aktif ia digunakan.

Salah satu caranya adalah dengan menempelkan sebuah tanda kimia kecil pada DNA.
Namanya gugus metil β€” CH₃.
Proses penempelan gugus metil pada DNA disebut metilasi DNA. Tetapi CH₃ tidak menempel sembarangan. Pada manusia, metilasi DNA paling sering terjadi pada huruf C β€” sitosin β€” yang berada di lokasi tertentu bernama CpG.

Jadi gampangnya: CpG adalah alamatnya. CH₃ adalah tanda kimianya.
Huruf DNA tidak diganti. Tidak terjadi mutasi.
Yang berubah adalah tanda yang membantu sel mengatur bagaimana DNA tersebut bisa digunakan.
Nah, inilah salah satu wilayah yang dipelajari dalam epigenetik.

Lalu Bagaimana Ilmuwan Menemukan CH₃ Sekecil Itu?

Hihi para peneliti tidak membuka DNA lalu mencari CH₃ dengan kaca pembesar. πŸ˜‹
Salah satu caranya adalah dengan memberikan bisulfit pada DNA.
Bisulfit tidak membaca DNA, tetapi mengubah sitosin yang tidak termetilasi. Sitosin tersebut kemudian akan terbaca sebagai T, sedangkan sitosin yang ditempeli gugus metil relatif terlindungi dan tetap terbaca sebagai C.
Dengan membandingkan berapa banyak C dan T pada lokasi tertentu, peneliti dapat memperkirakan berapa persen DNA yang termetilasi di lokasi tersebut.

Maka secara sederhana:
Kalau C β†’ T : kemungkinan tidak termetilasi
Kalau C β†’ C : kemungkinan termetilasi
Dengan membaca banyak molekul DNA, peneliti dapat menghitung berapa persen suatu lokasi DNA mengalami metilasi.
Dan ketika teknik seperti ini digunakan pada orang-orang yang pernah mengalami Dutch Hunger Winter sejak dalam kandungan, ditemukan sesuatu yang menarik.

IGF2: Jejak Setelah Enam Puluh Tahun

Salah satu gen yang diteliti adalah IGF2 β€” Insulin-like Growth Factor 2.
IGF2 bukan gen sembarangan. Gen ini ikut berperan dalam pertumbuhan manusia sejak masih berada di dalam kandungan. Karena itu, tubuh mengatur kerjanya dengan sangat ketat.
Pada penelitian yang terkenal di tahun 2008, para peneliti membandingkan orang yang mengalami kelaparan sekitar masa pembuahan dengan saudara kandung sesama jenis yang tidak mengalami paparan tersebut.

Hasilnya?
Sekitar enam puluh tahun kemudian, pola metilasi pada daerah pengatur IGF2 masih berbeda.
Rata-rata metilasi IGF2 pada kelompok yang terpapar adalah 0,488, sedangkan pada saudara yang tidak terpapar 0,515β€”atau sekitar 5,2% lebih rendah secara relatif.

Perhatikan satu hal penting
Bukan berarti orang yang kelaparan mempunyai CH₃ sedangkan kelompok pembanding tidak.
Keduanya mempunyai metilasi. Yang berbeda adalah proporsinya.
Dan kita juga tidak boleh langsung membuat rumus: metilasi turun β†’ IGF2 naik β†’ penyakit.
Biologi tidak sesederhana itu.

Efek metilasi bergantung pada di mana tanda tersebut berada, bagaimana daerah DNA itu mengatur gen, jaringan apa yang diperiksa, serta mekanisme pengaturan lain yang bekerja bersamanya.
Yang penting dari penelitian ini adalah sesuatu yang lebih mendasar: paparan lingkungan pada awal kehidupan berhubungan dengan perbedaan tanda epigenetik yang masih dapat ditemukan puluhan tahun kemudian.

B&B β€” BODY & BRAIN

Di sinilah cerita Dutch Hunger menjadi jauh lebih besar daripada sekadar satu gen.
Ketika seorang janin sedang berkembang, yang sedang dibangun bukan hanya ukuran tubuhnya.
Organ, sistem metabolisme, hormon, plasenta, dan otaknya sedang berkembang pada saat yang bersamaan.

Kekurangan nutrisi pada masa kehamilan dapat mempunyai dampak yang berbeda tergantung kapan paparan itu terjadi.

BODY

Pada penelitian terhadap 741 orang sekitar usia 50 tahun, perempuan yang terpapar kelaparan pada awal kehamilan mempunyai rata-rata BMI 7,4% lebih tinggi dibanding perempuan yang tidak terpapar. Perbedaan serupa tidak ditemukan pada laki-laki dalam penelitian tersebut.
Ini tidak berarti kelaparan ketika hamil otomatis menghasilkan anak yang kelak mengalami obesitas.
Yang ditunjukkan penelitian tersebut adalah hubungan statistik pada kelompok manusia, dan efeknya ternyata bergantung pada waktu paparan serta jenis kelamin.

BRAIN

Otak juga sedang dibangun.
Data registri dari Dutch Hunger Winter menemukan bahwa orang yang mengalami paparan kelaparan berat pada awal kehidupan dalam kandungan mempunyai sekitar dua kali risiko schizophrenia pada masa dewasa dibanding kelompok pembanding.

Sekali lagi, ini adalah asosiasi epidemiologis.
Dutch Hunger tidak membuktikan bahwa kelaparan merupakan satu-satunya penyebab schizophrenia. Penyakit ini mempunyai mekanisme yang kompleks dan melibatkan banyak faktor.
Tetapi temuan tersebut mengingatkan kita bahwa lingkungan ketika otak sedang berkembang dapat mempunyai konsekuensi yang baru terlihat puluhan tahun kemudian.
Yang sedang dibangun bukan hanya tubuh seorang bayi. Otaknya pun sedang dibangun.

Lalu Bagaimana dengan Mbah Putri dan Cucunya?

Di Seri 1 kita sudah bertemu tiga generasi sekaligus.
Ketika Mbah Putri mengalami kelaparan, anak perempuannya sudah berada di dalam kandungan.
Bahkan bakal sel telur yang kelak dapat menjadi cucunya juga sudah mulai terbentuk di dalam ovarium janin tersebut.

Karena itu, jika suatu perubahan kemudian ditemukan pada cucunya, kita belum bisa langsung mengatakan bahwa perubahan tersebut diwariskan secara epigenetik dari Mbah Putri, karena calon cucu yang dalam bentuk bakal sel telur, sudah berada di sana ketika kelaparan terjadi.

Ada satu alasan lain mengapa kita harus berhati-hati

Tubuh Juga Bisa Menghapus Jejak
Sebelum kehidupan berikutnya dimulai, banyak tanda epigenetik pada sel germinal dihapus dan dibentuk kembali. Kemudian setelah pembuahan terjadi lagi proses besar penataan ulang epigenetik.

Bayangkan seperti sebuah factory reset biologisβ€”meskipun tentu tidak semua tanda dihapus dengan cara yang sama dan analogi ini tidak sempurna. Mekanisme ini merupakan salah satu alasan mengapa klaim bahwa suatu tanda epigenetik diwariskan terus-menerus dari nenek kepada cucu pada manusia harus dibuktikan dengan sangat hati-hati.

Jadi Dutch Hunger Winter memberi kita bukti kuat bahwa lingkungan awal kehidupan dapat meninggalkan jejak epigenetik jangka panjang pada individu yang mengalami paparan.
Tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa semua jejak tersebut otomatis diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sembilan Bulan yang Dampaknya Bisa Sangat Panjang

Para perempuan Belanda itu tidak memilih kelaparan.
Tetapi Dutch Hunger Winter meninggalkan satu pelajaran penting: lingkungan tempat seorang manusia mulai dibangun dapat meninggalkan jejak yang sangat lama.
Karena itu, kehamilan layak dipersiapkan sebaik mungkin.
Nutrisi yang cukup, kesehatan ibu, penyakit yang terkendali, kesehatan mental, serta pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya penting untuk melewati sembilan bulan kehamilan.
Yang sedang dibangun bukan hanya tubuh seorang bayi. Otaknya pun sedang dibangun.
Dan karena itu, menjaga kesehatan kehamilan bukan hanya urusan seorang ibu. Keluarga, pelayanan kesehatan, dan masyarakat ikut mempunyai peran.

Tubuh ternyata dapat mengingat πŸ’œ
Tetapi tubuh juga mempunyai cara untuk melupakanπŸ˜‹πŸƒβ€β™€β€

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *