Usus Lengket Setelah Operasi Perut: Mengapa Bisa Terjadi?

Loading

📌 Tentang Artikel Ini: Pernah menjalani operasi buka perut, terus mengalami nyeri kolik, perut kembung, muntah, tidak bisa flatus? Salah satu sebabnya adalah adhesi—jaringan parut di dalam rongga perut yang bisa membuat usus saling melekat. Artikel ini tentang bagaimana proses penyembuhan bisa membentuk adhesi, kapan adhesi menyebabkan adhesive small bowel obstruction (ASBO), mengapa tidak semuanya harus dioperasi, dan apa hubungannya dengan nikotin.
📂 Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
📅 Ditulis pertama kali: 2 Agustus 2010
🔄 Direvisi terakhir: 8 September 2026
📚 Referensi utama: Bologna Guidelines for Diagnosis and Management of Adhesive Small Bowel Obstruction (ASBO), World Society of Emergency Surgery, World Journal of Emergency Surgery. https://link.springer.com/article/10.1186/s13017-018-0185-2. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17418863/
🖼️ Foto: Koleksi Pribadi

Pernah menjalani operasi buka rongga perut? Salah satu hal yang dapat terjadi setelahnya adalah adhesi intraabdomen—jaringan di dalam perut yang semula dapat bergerak bebas menjadi melekat satu sama lain.
Orang sering menyebutnya “usus lengket.”

Sebagian besar adhesi tidak menimbulkan masalah. Tetapi pada sebagian orang, adhesi dapat menarik, menekuk, atau menjepit usus sehingga menyebabkan obstruksi usus halus akibat adhesi (adhesive small bowel obstruction/ASBO). Adhesi juga bisa terkait dengan nyeri kronis, infertilitas pada perempuan, dan membuat operasi berikutnya menjadi lebih sulit.
Mangkanya setiap kali pasien meminta operasi saesar misalnya padahal tidak diperlukan, saya selalu bilang: “Kalau tidak perlu operasi ya tidak usah.”
Bukan karena dokter bedah takut membuka perut. Justru karena kami tahu apa yang mungkin terjadi bertahun-tahun setelah luka operasinya sembuh.

Mengapa Usus Bisa “Lengket”?

Dalam keadaan normal, permukaan organ-organ di dalam rongga perut licin sehingga usus dapat bergerak terhadap jaringan di sekitarnya.

Operasi menyebabkan cedera pada peritoneum. Sebagai bagian dari proses penyembuhan, terjadi respons inflamasi dan terbentuk fibrin pada permukaan jaringan yang mengalami cedera. Jadi “usus lengket” sebenarnya bukan karena usus tiba-tiba punya lem deh…..


Salah satu sebabnya kemungkinan akibat proses penyembuhan luka di dalam rongga perut. Dan adhesi bukan sekadar jaringan parut mati. Penelitian jaringan adhesi menunjukkan adanya pembuluh darah, VEGF, serta aktivitas biologis di dalam jaringan tersebut.

Tapi terus jangan jadi ‘anti’ operasi perut gegara tulisan ini lo, banyak kasus yang tidak bisa dihindari selain memang harus operasi, misal pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.

Contoh akibat kecelakaan yang mengakibatkan liver atau limpa pecah. Operasi harus dilakukan sesegera mungkin atau nyawa taruhannya. Kasus lain adalah kebocoran usus akibat luka tusuk, akibat penyakit typhus, akibat usus buntu pecah dll. Usus yang bocor sangat cepat menimbulkan infeksi dan dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Kalau usus buntu pecah atau usus bocor menghasilkan nanah infeksius yang menyebar karena ada selaput perut yang melindungi organ-organ daleman dan kaya pembuluh darah. Operasi harus segera dilakukan karena angka kematian akibat infeksi perut tinggi jika terlambat.

Apakah Semua Adhesi Harus Dioperasi?

Tidak.
Bahkan bila seseorang pernah menjalani laparotomi dan kemudian mengalami nyeri perut, jangan langsung menyimpulkan bahwa adhesi adalah penyebabnya, meskipun kita harus waspada.

Yang menjadi perhatian adalah bila adhesi menyebabkan obstruksi usus.
Gejalanya bisa berupa nyeri perut kolik atau hilang-timbul, perut kembung, mual dan muntah, sulit buang angin, serta tidak dapat buang air besar.

Pada ASBO tanpa tanda peritonitis, strangulasi atau iskemia usus, penanganan awal sering dapat dilakukan tanpa operasi: pasien dipuasakan, diberikan cairan dan koreksi elektrolit, serta dilakukan dekompresi dengan nasogastric tube bila diperlukan.

Tetapi bila dicurigai terjadi strangulasi, iskemia, perforasi atau peritonitis, ceritanya berbeda. Operasi mungkin diperlukan segera. Pedoman World Society of Emergency Surgery juga menekankan pendekatan non-operatif pada pasien yang sesuai, tetapi bukan pada keadaan yang menunjukkan komplikasi tersebut.

Inilah paradoks adhesi.

Operasi dapat membebaskan usus yang terjepit oleh adhesi, tetapi operasi itu sendiri kembali menimbulkan cedera peritoneum—dan berpotensi membentuk adhesi baru😑😂

Lalu Apa Hubungannya dengan Rokok?

Nah, bagian ini menarik.
Sebuah penelitian eksperimental memberikan nikotin kepada tikus hingga kadar darahnya dibuat menyerupai paparan seorang perokok sekitar satu bungkus per hari. Setelah dilakukan laparotomi dan dibuat cedera terkontrol pada sekum, adhesi dinilai 14 hari kemudian.

Hasilnya, kelompok yang mendapat nikotin mempunyai adhesi yang secara bermakna lebih berat dibandingkan kelompok kontrol. Peneliti juga menemukan peningkatan vascular endothelial growth factor (VEGF) di cairan peritoneum. VEGF meningkatkan permeabilitas vaskular dan diduga ikut meningkatkan keluarnya komponen yang berperan pada pembentukan adhesi.

Tetapi ini penelitian pada hewan, dan tidak bisa diartikan menjadi angka risiko yang sama pada manusia…memang, tapi penelitian ini memberi mekanisme biologis yang menarik mengenai bagaimana paparan nikotin dapat memengaruhi pembentukan adhesi pascaoperasi.

Jadi kalau sudah tahu merokok mengganggu begitu banyak proses penyembuhan tubuh, untuk apa cari alasan lagi untuk ngeyel? Kasihan tikusnya sudah bekerja keras memberi data…..lagian ngapain mau diperdaya oleh tikus eh rokok😏 🤦🏻‍♂‍😂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *