![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Kalau seseorang jatuh dari pesawat dan hasil pemeriksaannya menunjukkan SARS-CoV-2 positif, kan nggak berarti virus corona mendorongnya keluar dari pesawat kan 🤣 – karena masalah sebenarnya itu memang pasien bisa punya diagnosis lebih dari satu kan – ya ini memang tentang gelud di masa itu 🤭
📂 Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
📅 Ditulis pertama kali: 10 Juni 2020
🔄 Direvisi terakhir: 6 September 2026
📚 Referensi utama: WHO — International Guidelines for Certification and Classification (Coding) of COVID-19 as Cause of Death, 20 April 2020
🖼️ Gambar: Geofanny Sarah Adventia, Koleksi Pribadi edit AI 🤣
Di masa pandemi pernah ramai berita: orang tenggelam, kecelakaan, bahkan jatuh dari pesawat, kok kok semua jadi COVID-19?
Sampai ramai banget….“Nah kan! Semua orang meninggal dibilang COVID!” 😂
Sebentarrrr…
Kalau seseorang jatuh dari pesawat lalu pemeriksaannya menunjukkan SARS-CoV-2 positif, kan nggak berarti virus corona mendorongnya keluar dari pesawat. 🤣
Masalahnya padahal sederhana banget: seseorang kan bisa punya lebih dari satu diagnosis – lebih dari satu penyakit – iya apa iya 😂 🤭
DIAGNOSIS BUKAN CUMA SATU
Misal ada pasien kecelakaan lalu lintas, dia mengalami cedera kepala berat dan patah tulang kaki. Eeeh kok pemeriksaan SARS-CoV-2 juga positif…..eeee dia juga menderita Diabetes
Diagnosanya jadi bagaimana?
- Diagnosis utama: cedera kepala berat – diagnosa yang membawa pasien ke rumah sakit
- Diagnosa sekunder: SARS-CoV-2, Diabetes Mellitus – penyakit yang sudah ada
- Diagnosa komplikasi: Fraktur/patah Kruris/Tungkai – ini komplikasi penyakit utama
Nah kan jadi COVID-19 nya tetap eksis sih, meskipun tidak menjadi penyebab utama pasien meninggal.
Jadi kata-kata “Pasien ini didiagnosis COVID-19”, nggak sama artinya dengan: “Pasien ini meninggal karena COVID-19.” Akhirnya jadi ribut deh, masih inget kok ada presenter cantik mata siapa gitu sampai bikin “show bahas ini” 🤭

“TAPI DIA SUDAH MENINGGAL. VIRUS KAN CUMA HIDUP DI HOST HIDUP?”
Nahhhh… ini geludan berikutnya. 😂
Virus memang memerlukan sel hidup untuk bereplikasi -beranak pinak. Tapiiii berhentinya kehidupan seseorang nggak berarti seluruh materi biologis dan partikel virus di tubuhnya menghilang dalam satu detik kayak waktu lampu dimatikan.
RNA virus bisa tetap terdeteksi setelah kematian. Bahkan pada berbagai jaringan, materi biologis masih dapat bertahan untuk suatu waktu setelah seseorang dinyatakan meninggal.
Karena memang mati ≠ seketika steril. Jenazah tidak mendadak jadi benda bebas mikroorganisme waktu monitor buyi tiiiiit dengan garis datar. Jenazah itu justru penuh bakteri – bakteri-bakteri ini malah berpesta pora sampai proses pembusukan.
TERUS KENAPA JENAZAH COVID DITANGANI KHUSUS?
Bukan karena jenazah akan bangun trus batuk-batuk. 😂
Waktu menangani jenazah bisa saja petugas kontak dengan cairan tubuh, sekret, permukaan yang terkontaminasi, serta prosedur tertentu yang dapat meningkatkan pajanan petugas, meskipun pada prakteknya petugas sudah pakai baju astronot. 🤣😂
Dan ini sebenarnya bukan barang baru yang hanya gara-gara COVID-19 kok.
Jauh sebelum pandemi, rumah sakit sudah punya prosedur Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) untuk penanganan jenazah dengan penyakit menular, contoh HIV atau Hepatitis.
Jadi prosedur ini ditujukan untuk melindungi orang yang masih hidup dan menangani jenazah secara aman dan bermartabat.

LALU KENAPA DULU PROTOKOLNYA SEPERTI MAU MENGUBUR PLUTONIUM? 😂
Nah, ini bagian sejarah pandemi yang menurutku justru perlu diingat.
Pada awal munculnya penyakit baru, pengetahuan kita memang masih terbatas. Tenaga kesehatan harus mengambil keputusan sebelum semua pertanyaan ilmiah mempunyai jawaban sempurna.
Maka prosedur awal dibuat sangat berhati-hati.
Seiring bukti bertambah, kita tahu lebih banyak soal bagaimana utamanya SARS-CoV-2 menular dan prosedur pun disesuaikan.
Ilmu kedokteran memang bekerja begitu: keputusan terbaik dibuat berdasarkan bukti yang tersedia saat itu, lalu diperbaiki ketika bukti baru datang.
Bukan berarti semua keputusan pertama pasti benar.
Tetapi juga bukan berarti tindakan berhati-hati ketika pengetahuan masih terbatas adalah sebuah kebodohan.
JADI…
Kalau seseorang jatuh dari pesawat lalu ternyata positif SARS-CoV-2:
penyebab dia jatuh tidak otomatis COVID-19. 😂
Tetapi hasil positif tersebut juga nggak perlu dihapus hanya karena dia kecelakaan🤣😂
Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda.
Dan kalau jenazahnya kemudian ditangani menggunakan prosedur pengendalian infeksi, itu pun tidak membuktikan bahwa dokter diam-diam mengubah penyebab kematiannya menjadi COVID-19.
Diagnosis, penyebab kematian, dan prosedur pengendalian infeksi adalah tiga hal yang berbeda.
Kadang keributan panjang terjadi hanya karena tiga laci itu ditumpahkan ke lantai lalu isinya dicampur jadi satu. 😂🤣😂—–masih ketawa ajah kalau inget keributan dulu itu😂🤣😋

