![]()
π Tentang Artikel Ini: Waktu peristiwa Dutch Hunger Winter 1944β1945, perempuan hamil mengalami kelaparan berat. Yang menarik, ketika seorang ibu mengandung janin perempuan, bakal sel telur calon cucunya sudah mulai terbentuk di dalam ovarium janin itu. Artinya, satu peristiwa dapat menyentuh tiga generasi dalam satu rangkaian biologis. Puluhan tahun kemudian, peneliti menemukan jejak pada cara gen keturunan diatur yang terpapar kelaparan saat dalam kandunganπ
π Kategori: Genetika
π Ditulis pertama kali: 3 Oktober 2026
π Referensi utama: Dutch Famine Birth Cohort
Making a Good Egg: Human Oocyte Health, Aging, and In Vitro Development
Dutch Famine Birth Cohort Study β Lumey 1993
πΌοΈ Gambar: Ilustrasi AI, Foto Public Domain
Dutch Hunger Winter β ketika sebuah musim dingin meninggalkan jejak gen jauh lebih lama daripada musim itu sendiriπ
Musim dingin 1944β1945 bukan musim dingin biasa bagi sebagian penduduk Belanda.
Perang Dunia II belum berakhir, pasokan makanan terganggu dan bahan bakar sulit didapat. Di wilayah barat Belanda, makanan semakin langka dan jatah harian penduduk pada masa terburuknya turun hingga sekitar 500 kalori per hari(kita rata-rata makan 2000an kalori/hari).

Warga mengumpulkan potongan kayu di antara rel trem selama Dutch Hunger Winter, 1944β1945.
Foto: Anefo / Nationaal Archief, Bestanddeelnr 917-7048. Lisensi CC BY-SA 3.0 https://commons.wikimedia.org/wiki/File%3AMensen_rapen_houtblokjes_tussen_tramrails.jpg
Anak laki-laki yang kekurangan makan selama Dutch Hunger Winter, 1944-1945. Public Domain
Orang-orang kelaparan.
Di antara mereka tentu ada perempuan yang sedang hamil.
Mereka tidak sedang diet, mereka juga tidak sedang memilih makanan apa yang baik untuk kehamilannya. Tapi kondisinya memang tidak ada makanan.
Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Dutch Hunger Winter.
Dan puluhan tahun kemudian, tragedi ini memberikan sebuah pelajaran yang ketika itu tidak pernah dibayangkan oleh para ibu yang mengalaminya.
Ada tiga generasi di dalam satu cerita β maksudnya ada tiga generasi di dalam satu tubuh.
Bayangkan seorang perempuan muda sedang hamil anak perempuan.
Kita panggil saja dia Mbah Putri dan mbah Putri sedang kelaparan.
Janin perempuan di dalam rahimnya pasti ikut hidup dalam lingkungan yang sama: padahal tubuh ibunya kekurangan makanan, metabolisme berubah, dan berbagai sinyal biologis yang diterimanya berbeda dari keadaan normal.
Tetapi ternyata ada satu tokoh lagi di dalam cerita ini…
Calon cucunya – lho, cucunya kan belum lahir?β
Betul, bahkan ibunya sendiri saat itu masih menjadi janin.
Tetapi ovarium janin perempuan sudah mulai menyiapkan bakal sel telurnya ketika ia masih berada di dalam rahim ibunya. Menjelang lahir, ovarium bayi perempuan sudah menyimpan banyak oosit primer yang kelak menjadi sumber sel telur selama masa reproduksinya. (Oosit adalah sel telur yang belum matang yang diproduksi oleh ovarium)
Artinya, ketika Mbah Putri sedang mengandung anak perempuannya, di dalam tubuh janin itu sudah terdapat bakal sel telur yang suatu hari menjadi cucu Mbah Putri.
Jadi gambar dibawah yang tampak seperti lelucon – itu benar secara biologis β dan dalam kisah ini miris: ada mbah Putri β anak perempuan yang masih berupa janin β bakal sel telur calon cucu.
Tiga generasi berada dalam satu rangkaian biologis yang sama pada saat yang sama.
Dan si bakal cucu seolah bisa berkata: βAku juga ada di sini, Mbah Putriβ¦βπ

Musim dingin berakhir
Pada Mei 1945, Belanda dibebaskan dan kelaparan itu berakhir.
Makanan kembali tersedia. Perempuan-perempuan hamil tadi melahirkan. Anak-anak mereka tumbuh, menjadi dewasa, lalu menua.
Dutch Hunger Winter seharusnya tinggal menjadi bagian dari sejarah Perang Dunia II.
Tetapi bagi para ilmuwan, ada sesuatu yang luar biasa dari tragedi ini. Belanda mempunyai catatan kelahiran dan catatan medis yang baik. Waktu terjadinya kelaparan juga diketahui dengan jelas.
Karena itu, puluhan tahun kemudian para peneliti dapat melakukan sesuatu yang hampir mustahil dilakukan dalam penelitian manusia: membandingkan orang yang pernah mengalami kelaparan ketika masih berada di dalam kandungan dengan mereka yang tidak mengalaminya.
Mereka bahkan dapat memperkirakan pada tahap kehamilan mana kelaparan itu terjadi.
Dan rupanya, cerita musim dingin itu belum selesai.
Enam puluh tahun kemudian
Para ilmuwan memeriksa orang-orang yang dahulu berada di dalam rahim Mbah Putri ketika Dutch Hunger Winter terjadi β dan para ilmuwan menemukan: βGen mereka memang tidak berubah menjadi gen baru karena pernah kelaparanβ, tetapi para peneliti menemukan sesuatu yang jauh lebih aneh: cara tubuh mengatur kerja sebagian gen mereka ternyata berbeda, dan perbedaannya masih dapat ditemukan sekitar enam puluh tahun setelah musim dingin itu berakhir.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana suatu kejadian ketika manusia bahkan belum lahir dapat meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan ketika sudah menua, ketika rambutnya sudah memutih?
Jawabannya membawa kita pada satu cabang ilmu yang namanya terdengar jauh lebih rumit daripada sebenarnya: EPIGENETIK
Dari penelitian ini ditemukan: Gen-nya masih ada, tulisan DNA-nya tidak harus berubah.
Tetapi cara sebagian gen itu diatur bisa berubah.
Dan pada orang-orang yang pernah mengalami Dutch Hunger Winter ketika masih berada dalam kandungan, para ilmuwan menemukan salah satu jejak kimianya.
Jejak itu bahkan dapat diukur πππ¬
β Bersambung: Dutch Hunger Winter Seri 2
Ketika Gen Tetap Sama, tetapi Cara Kerjanya Berubah

