![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Kehilangan dapat memunculkan kesedihan dalam banyak bentuk. Artikel ini membahas lima tahap kesedihan Kübler-Ross—denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance—serta mengingatkan bahwa proses berduka tidak selalu berurutan dan berbeda pada setiap orang
📂 Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
📅 Ditulis pertama kali: 17 November 2020
🔄 Direvisi terakhir: 21 Agustus 2026
📚 Referensi utama: APA — Stages of Grief, Cleveland Clinic — Five Stages of Grief , Grief: Coping with the loss of your loved one🖼️ Foto: Koleksi Pribadi
Kehilangan adalah bagian dari hidup. Bisa karena kematian orang yang kita sayangi, penyakit, perpisahan, kehilangan pekerjaan, atau perubahan besar yang datang tiba-tiba.
Respons setiap orang berbeda. Ada yang tampak tegar, ada yang marah, diam, bahkan seolah tidak bereaksi. Karena itu, jangan menilai kesedihan seseorang hanya dari apa yang terlihat.
Salah satu cara memahami proses ini adalah melalui lima tahap kesedihan…
Five stages of grief…
DENIAL — menyangkal
“Ah, ini tidak terjadi.” Penyangkalan sering menjadi pertahanan pertama ketika kenyataan terasa terlalu berat untuk diterima.
MARAH
Kemarahan bisa diarahkan kepada keadaan, orang lain, tenaga kesehatan, bahkan kepada orang yang meninggalkan kita. Marah dapat menjadi bagian dari proses menghadapi rasa kehilangan.
BARGAINING — tawar-menawar
Pikiran dipenuhi “seandainya…” atau “kalau saja…”. Kita berharap masih ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk mengubah kenyataan.
DEPRESI — kesedihan mendalam
Ketika kenyataan mulai terasa nyata, seseorang dapat menarik diri, menjadi lebih diam, dan tenggelam dalam kesedihannya.
MENERIMA
Menerima bukan berarti tidak sedih atau melupakan. Kita mulai mampu hidup berdampingan dengan kenyataan yang tidak dapat diubah.
Kelima tahap ini tidak harus terjadi berurutan dan tidak semua orang akan mengalami semuanya. Seseorang bisa maju, mundur, atau berada di beberapa tahap dalam waktu yang berbeda.
Kesedihan memang menyakitkan
Dalam praktik sehari-hari, saya sering melihat keluarga pasien menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda. Ada keluarga yang saling menguatkan, tetapi ada pula yang justru saling menyalahkan.
Yang paling dibutuhkan orang yang sedang berduka sering kali bukan nasihat panjang. Hadir, mendengarkan, mengulurkan tangan, dan memberi waktu kadang jauh lebih berarti.
Jangan memaksa seseorang untuk segera “kuat”. Setiap orang mempunyai waktu dan caranya sendiri untuk berdamai dengan kehilangan.
Dan seperti wajah seseorang di bawah ini 😄, kesedihan memang mempunyai banyak rupa….

GARA-GARA CORONA
Tulisan ini pertama kali saya buat pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020. Saat itu saya mendadak jadi “pengangguran”—pasien sepi, operasi nyaris tidak ada, sementara waktu luang berlimpah. Jadilah saya menulis… banyaaaak. 😄
Di luar sana, kehilangan hadir dalam berbagai bentuk: kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, kebebasan, rasa aman, bahkan kehidupan yang sebelumnya kita anggap biasa. Dari situlah saya mulai menulis tentang bagaimana manusia menghadapi kesedihan dan kehilangan.

