PERBEDAAN TES SKRINING & TES DIAGNOSTIK

SKRINING

Loading

📌 Tentang Artikel Ini: Jadi kalau suatu hari anda melihat petugas kesehatan mengejar seseorang di antara tukang sayur dan penjual ayam sambil membawa alat swab…mereka bukan sedang berburu manusia. 😂 😂 mereka sedang berusaha menemukan kasus sebelum kasus itu sempat menemukan orang berikutnya.
📂 Kategori:Masalah Kesehatan & Hak Pasien
📅 Ditulis pertama kali: 11 September 2020
🔄 Direvisi terakhir: 19 September 2026
📚 Referensi utama: Differences between screening and diagnostic tests and case finding

Screening tests are not diagnostic tests.

Di awal pandemi COVID-19, dunia bukan cuma ramai oleh virus. Dunia juga ramai oleh perdebatan soal tes. 😅 PCR, rapid test antibodi, rapid antigen—semuanya masuk percakapan publik. Masalahnya, sering kali semua pemeriksaan itu dibandingkan begitu saja tanpa terlebih dahulu bertanya: tes ini sebenarnya mau dipakai untuk apa?
Ada yang ngotot, “Kalau bukan PCR, tidak akurat!”
Trus dibalas, “Rapid antigen lebih bagus daripada rapid antibodi!”
Malah ada tuduhan: “Coba saja kucing, anjing, meja atau kursi dites. Pasti positif COVID!”
Waduh. 😂🤣😂
Kalau meja ruang tamu sampai positif COVID, mudah-mudahan dia bersedia isolasi mandiri dan tidak keluyuran ke dapur selama sepuluh hari. 🤣

Tetapi di balik keributan itu sebenarnya ada satu persoalan penting yang sering terlupakan: skrining dan diagnosis mempunyai tujuan yang berbeda.

Skrining: memasang jaring

Tujuan skrining adalah mencari orang-orang dalam suatu populasi yang mungkin mempunyai kondisi atau infeksi tertentu, meskipun saat itu mereka tidak datang sebagai pasien dengan keluhan yang hendak didiagnosis. Dalam wabah penyakit menular, ini sangat penting.
Petugas bisa saja harus masuk ke pasar, terminal, pabrik, sekolah atau lingkungan dengan banyak kasus dan—secara harfiah—mengejar orang yang merasa sehat dan tidak ingin diperiksa.
“Bu, swab dulu, Bu!”
“Enggak mauuu… saya sehat!”
Lalu kabur masuk lorong sayur. 😂🤣😂
Petugasnya mengejar bukan karena sedang kurang olahraga.
Orang yang merasa sehat belum tentu tidak sedang terinfeksi. Karena itu skrining berfungsi seperti jaring besar: mencari siapa yang perlu dipisahkan dari populasi umum, diperiksa lebih lanjut, atau segera ditindaklanjuti agar rantai penularan dapat diputus.

Karena digunakan pada banyak orang, sebuah strategi skrining harus mempertimbangkan bukan hanya akurasi pemeriksaan, tetapi juga kecepatan memperoleh hasil, kemudahan pelaksanaan, biaya, ketersediaan alat, cakupan populasi, dan kemungkinan pemeriksaan berulang.
Tes yang sangat akurat tetapi hasilnya datang terlambat dapat kehilangan sebagian manfaatnya untuk memutus penularan.

Diagnosis: sekarang kita mencari kepastian pada individu

Tes diagnostik mempunyai pertanyaan yang berbeda:
Apakah orang ini mempunyai penyakit atau infeksi yang sedang kita curigai?
Karena keputusan klinis terhadap seorang pasien dapat bergantung pada jawabannya, hasil tes harus dinilai bersama gejala, riwayat paparan, pemeriksaan fisik bila relevan, waktu perjalanan penyakit, karakteristik tes, serta kemungkinan penyakit sebelum tes dilakukan (pre-test probability).
Jadi hasil pemeriksaan laboratorium tidak hidup sendirian di planet lain. 😁
Bahkan tes yang sangat baik tetap mempunyai kemungkinan false positive dan false negative.

Jadi PCR untuk diagnosis, rapid test untuk skrining?

Tidak sesederhana itu. Ini salah satu hal yang perlu diluruskan dari kegaduhan masa pandemi.
PCR, rapid antigen, dan tes antibodi adalah jenis/metode pemeriksaan.
Skrining dan diagnostik adalah tujuan pemeriksaan.

PCR/NAAT dapat digunakan untuk pemeriksaan diagnostik dan, dalam keadaan tertentu, juga untuk skrining. Rapid antigen juga dapat digunakan dalam strategi skrining maupun pemeriksaan orang bergejala sesuai konteks dan protokol.
Jadi pertanyaan yang lebih tepat bukan: “PCR atau rapid test, mana yang paling hebat?”
Tetapi:
“Apa yang sedang kita cari, pada siapa, pada fase penyakit yang mana, dan untuk keputusan apa hasil tes ini akan digunakan?”

“Rapid antigen lebih bagus daripada rapid antibodi!”

Nah, ini juga sempat ramai. 😅
Keduanya sebenarnya mencari hal yang berbeda.
Tes antigen mencari komponen virus dan lebih relevan untuk mendeteksi infeksi aktif pada periode tertentu. Tes antibodi mencari respons imun tubuh terhadap infeksi, yang membutuhkan waktu untuk terbentuk.
Karena itu membandingkan keduanya tanpa menyebut tujuan dan waktu pemeriksaannya seperti bertanya:“Lebih bagus termometer atau tensimeter?”
Lho… mau mengukur apa dulu, Saudara? 😂

Lalu kenapa tidak PCR saja untuk semua orang?

Pada awal pandemi, terutama ketika kapasitas pemeriksaan masih terbatas dan biaya PCR sangat mahal, gagasan melakukan PCR kepada populasi sangat besar mempunyai persoalan praktis.
Bayangkan satu juta orang harus diperiksa.
Bukan hanya biaya tes yang harus dihitung. Ada petugas, alat pelindung diri, pengambilan dan pengangkutan spesimen, laboratorium, reagen, tenaga pemeriksa, pelaporan hasil—dan yang sangat penting dalam pengendalian wabah: waktu.

Kalau tujuan kita menemukan orang yang berpotensi menularkan agar segera diisolasi, hasil yang baru datang setelah rantai penularan telanjur berjalan tentu tidak banyak membantu.
Karena itu dalam pengendalian wabah, tes dengan sensitivitas analitik tertinggi belum tentu selalu menjadi strategi skrining terbaik untuk setiap situasi.
Yang dicari adalah kombinasi yang masuk akal antara akurasi, kecepatan, frekuensi pemeriksaan, biaya, akses, dan kemampuan melakukan tindakan segera setelah hasil diketahui.

Dan bagaimana dengan kucing, anjing, meja dan kursi tadi?😂🤣😂

Pemeriksaan laboratorium mempunyai jenis spesimen yang tervalidasi, prosedur pengambilan sampel, target yang dideteksi, kontrol pemeriksaan dan aturan interpretasi hasil.
Mengambil suatu alat tes lalu menggunakannya pada benda atau spesimen yang tidak sesuai prosedur kemudian mendapatkan hasil aneh tidak otomatis membuktikan bahwa pemeriksaannya tidak valid.

Tes medis bukan cenayang.

Dia hanya dapat menjawab pertanyaan dengan baik kalau kita memberi sampel yang benar, dengan cara yang benar, pada waktu yang tepat, kemudian membaca hasilnya dalam konteks yang benar. Jadi kalau suatu hari kursi ruang makan Anda dinyatakan positif COVID setelah diperiksa dengan cara yang tidak semestinya…jangan buru-buru mencari ambulans untuk kursinya. 😂🤣😂

Skrining bukan diagnosis massal

Inilah yang sering hilang dalam perdebatan waktu itu.
Skrining bukan berarti satu negara membawa laboratorium lengkap lalu mendiagnosis setiap orang yang lewat. Skrining adalah memasang jaring.
Jaring itu harus cukup baik untuk menemukan orang yang perlu ditindaklanjuti, tetapi juga harus cukup cepat, praktis dan terjangkau sehingga dapat benar-benar digunakan pada populasi yang menjadi sasaran.

Setelah seseorang tertangkap basah🤣😂, barulah kita menentukan langkah berikutnya sesuai konteks: pemeriksaan ulang, pemeriksaan diagnostik, evaluasi klinis, isolasi, atau tindakan lainnya.
Jadi kalau suatu hari anda melihat petugas kesehatan mengejar seseorang di antara tukang sayur dan penjual ayam sambil membawa alat swab…
mereka bukan sedang berburu manusia. 😂 😂

Mereka sedang berusaha menemukan kasus sebelum kasus itu sempat menemukan orang berikutnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *